Kodomo no Uta 「子供の歌」

teru_teru_bozu_by_Sawahh_Wish

images

Warabe uta (童 歌) adalah lagu tradisional Jepang, mirip dengan sajak. Mereka sering dinyanyikan sebagai bagian dari permainan anak tradisional. Mereka digambarkan sebagai bentuk min’yo: lagu tradisional Jepang, biasanya dinyanyikan tanpa instrumen yang menyertainya.
Lirik berabad-abad sering dipahami Jepang modern (terutama untuk anak-anak yang menyanyikan lagu itu), dan lain-lain bisa sangat jahat pada analisis dekat. Seperti banyak lagu-lagu anak-anak di seluruh dunia, karena orang yang terbiasa dengan mereka sejak usia dini, mereka sering tidak menyadari makna nyata

Tōryanse
“Tōryanse” sering dimainkan sebagai lagu elektronik di penyeberangan pejalan kaki di Jepang untuk sinyal kapan waktu yang aman untuk menyeberang.

Japanese:
通りゃんせ 通りゃんせ
ここはどこの 細通じゃ

天神さまの 細道じゃ

ちっと通して 下しゃんせ

御用のないもの 通しゃせぬ

この子の七つの お祝いに
お札を納めに まいります

行きはよいよい 帰りはこわい

こわいながらも
通りゃんせ 通りゃんせ

Romaji:
Tōryanse, tōryanse
Koko wa doko no hosomichi ja?

Tenjin-sama no hosomichi ja

Chitto tōshite kudashanse

Goyō no nai mono tōshasenu

Kono ko no nanatsu no oiwai ni
O-fuda wo osame ni mairimasu

Iki wa yoi yoi, kaeri wa kowai

Kowai nagara mo
Tōryanse, tōryanse

(Ketika angka kematian bayi tinggi, orang-orang tradisional dirayakan ketika seorang anak selamat mencapai usia 7. Lihat Shichigosan)
Ini khususnya Warabe-uta dinyanyikan sebagai bagian dari permainan tradisional identik dengan “London Bridge is Falling Down”. Dua anak menghadapi setiap link lain tangan mereka untuk membentuk lengkungan ‘pos’, dan anak-anak yang tersisa berjalan melalui bawah dalam garis (dan bulat kembali lagi dalam lingkaran). Anak yang kebetulan berada di bawah lengkungan ketika lagu selesai kemudian ‘tertangkap’.
Lagu yang dimainkan di penyeberangan pejalan kaki Jepang analogi untuk game ini, yaitu, adalah aman untuk menyeberang sampai musik berhenti.

Teru-teru-bōzu 
Sebuah teru teru bōzu adalah sedikit tradisional buatan tangan boneka yang seharusnya membawa sinar matahari. “Teru” adalah kata kerja Jepang yang menggambarkan sinar matahari, dan “bōzu” adalah seorang biarawan Buddha. Anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu dan string dan menggantung mereka dari jendela berharap untuk cuaca cerah. Ada Warabe uta terkenal yaitu tentang hantu kecil yang lucu yang dapat Anda lihat tergantung di mana-mana pada hari-hari hujan.

 

Japanese:

てるてるぼうず、てるぼうず

明日天気にしてをくれ
いつかの夢の空のよに
晴れたら金の鈴あげよ

てるてるぼうず、てるぼうず
明日天気にしてをくれ
私の願いを聞いたなら
甘いお酒をたんと飲ましょ

てるてるぼうず、てるぼうず
明日天気にしてをくれ
それでも曇って泣いてたら
そなたの首をちょんと切るぞ

Romaji:
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yo ni
Haretara kin no suzu ageyo

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Sore de mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Translation:
Teru-teru-bozu, teru bozu
Do make tomorrow a sunny day
Like the sky in a dream sometime
If it’s sunny I’ll give you a golden bell

Teru-teru-bozu, teru bozu
Do make tomorrow a sunny day
If you make my wish come true
We’ll drink lots of sweet sake

Teru-teru-bozu, teru bozu
Do make tomorrow a sunny day
but if it’s cloudy and I find you crying (i.e. it’s raining)
Then I shall snip your head off

 

Lirik yang diduga tentang sebuah kisah tentang seorang biksu yang berjanji petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama hujan berkepanjangan yang merusak tanaman. Ketika biarawan itu gagal membawa sinar matahari, ia dieksekusi.

Fuyu no Uta

Fuyu no Uta (冬 の 歌) adalah lagu anak-anak Jepang bernyanyi ketika itu turun salju dan mereka ingin bermain di luar. ‘Fuyu’ berarti ‘dingin’, begitu judul dapat diterjemahkan sebagai “Lagu Winter”.

 

Japanese:
雪やこんこ 霰やこんこ
降っては降っては ずんずん積る
山も野原も 綿帽子かぶり
枯木残らず 花が咲く

雪やこんこ 霰やこんこ
降っても降っても まだ降りやまぬ
犬は喜び 庭駈けまわり
猫は火燵で 丸くなる

Romaji:

yuki ya konko, arare ya konko
futtewa futtewa zunzun tsumoru
yama mo nohara mo wataboshi kaburi
kareki nokorazu hana ga saku

yuki ya konko, arare ya konko
futtemo, futtemo, mada furiyamanu
inu wa yorokobi, niwa kakemawari
neko wa kotatsu de marukunaru

Translation:

 

The snow falls densely, the hail falls densely!
It’s falling and falling, collecting more and more.
The mountains and the fields are also wearing their cotton hats,
and in every tree flowers bloom.

The snow falls densely, the hail falls densely!
It’s still falling and falling, never stopping.
The dog is happy, running around the garden,
the cat is curled up under the kotatsu.

 

Dalam bait pertama, bunga-bunga mekar di musim dingin mungkin mengacu pada salju mengumpulkan pada cabang kosong. Terjemahan harfiah dari garis adalah sesuatu seperti “Tidak ada pohon layu tersisa, bunga mekar”.

[sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Warabe_uta ]

Berdasarkan pengalaman saya saat mengikuti kelas ‘kodomo no uta’, sangat menyenangkan karena berkat itu saya jadi tahu apa dan bagaimana ‘kodomo no uta’ itu. Serta saya juga diberikan kesempatan untuk mengartikan arti dari lagunya. Sangat menyenangkan!

Chanoyu 「茶の湯」

tumblr_lzolhniGCy1qe4vqyo1_500

U1191r

 

Sejarah :

Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti Tang  di Tiongkok yang menulis buku berjudul Ch’a Ching (茶经) atau Chakyō (bahasa Inggris: Classic of Tea). Buku ini merupakan ensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh.

Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Koki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Omi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.

Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip Teh Oolong yang dikenal sekarang ini. Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh belum dinikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer.

Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang diminum.

Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Juko. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.

Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shoo dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyu di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon,Furuta Shigeteru, Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, dari aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.

Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.

Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke danMushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.

Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.

Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.

Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuil Daitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.

Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.

Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.

[sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_minum_teh_(Jepang) ]

Berdasarkan pengalaman saya saat mengikuti upacara minum teh di kelas Bunka Taiken, sangat menarik dan menyenangkan. Awalnya kami diberikan kue mochi sebelum meminum ocha, setelah itu kami menyaksikan nihon jin yang mahir dan terampil dalam membuat ocha dengan kepiawaiannya meracik. Dibutuhkan suasana yang tenang saat meracik ocha dan keterampilan yang sangat hebat. Kemudian setelah itu kami semua diberikan kesempatan untuk meminum ocha tersebut. Kami juga diajarkan mengenai cara memegang cawan yang benar saat meminum ocha. Saat menerima cawan seharusnya kita mengangkatnya dengan ketinggian sejajar mata. Lalu turunkan dengan sejajar dada, dan putar dua kali cawan ke arah kanan agar gambar atau motif di cawan menghadap keluar, bukan menghadap ke arah mulut kita.

Yukata dan Kimono 「浴衣と着物」

tumblr_m5xvq2hgdT1qgrypy

Sejarah Kimono :

Kimono (着物) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).

Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf “T”, mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga kepergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zori atau geta.

Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-go-san. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryotei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).

Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode).Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkanfurisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.

[sumberhttp://id.wikipedia.org/wiki/Kimono ]

uniqlo_yukata02

Sejarah Yukata :

Istilah yukata berasal dari kata yukatabira (浴衣帷子). Mulanya katabira dipakai untuk menyebut sehelai kimono dari kain rami. Walaupun tidak lagi dibuat dari kain rami, pakaian seperti itu tetap disebut katabira. Kimono kain rami dipakai sebagai pakaian sewaktu mandi berendam, namun akhirnya berubah fungsi sebagai pakaian sesudah mandi. Ketika rumah-rumah di Jepang belum memiliki kamar mandi, yukata dipakai orang untuk pergi ke pemandian umum.

Dalam kamus Wamyo Ruijusho dari pertengahan zaman Heian, yukatabira (湯帷子) dijelaskan sebagai pakaian yang dikenakan sewaktu mandi berendam. Ketika itu, orang mandi sambil memakai yukatabira di pemandian umum, dan dipakai untuk mengelap keringat, sekaligus menutupi ketelanjangan dari orang lain. Bahan yukatabira adalah kain rami yang cepat kering kalau diperas.

Sejak sekitar zaman Azuchi-Momoyama, yukatabira dipakai orang sebagai pakaian sesudah mandi, untuk menyerap basah seusai mandi. Kalangan rakyat zaman Edo sangat menyenangi yukatabira hingga disingkat sebagai yukata. Ketika itu, yukata bukanlah pakaian sopan yang dipakai untuk bertemu dengan orang lain, melainkan hanya pakaian tidur.

Berbeda dari kimono jenis lainnya, menjahit yukata sangat mudah. Yukata memiliki pola yang sangat sederhana, dan dijahit tanpa kain pelapis di bagian pinggul atau pundak. Hingga seusai Perang Dunia II, cara menjahit yukata diajarkan kepada murid perempuan sekolah menengah umum di Jepang.

Berdasarkan pengalaman saya tentang yukata, karena saya masuk dalam klub odori yang jika setiap latihan bersama Ai sensei harus menggunakan yukata, jadi saya sedikit banyak tahu cara menggunakan yukata. Jika menggunakan kimono, bagian kirinya harus diatas, karena jika kanannya yang berada diatas itu akan menunjukkan bahwa kita sedang berduka atau ada kematian. Dan hal itu harus saat diperhatikan saat mengenakan yukata, karena jika salah akan sangat fatal.